Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan

Salawat yang Pahalanya Tak Terbatas

Salawat “Fil Awwalin” yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Salawat adalah salah satu zikir paling afdhol karena di dalamnya terdapat nama Allah dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW). Allah Ta'ala memerintahkan orang beriman untuk bersalawat kepada Nabi SAW sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (Al-Ahzab: 56)

Rasulullah SAW juga bersabda: 
"Perbanyaklah salawat kepadaku pada setiap Jumat. Karena salawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jumat. Barangsiapa yang banyak bersalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti." (HR. Al-Baihaqi)

Kisah mengenai Sholawat Awwalin wal Akhirin

Imam Muhammad as-Sakhawiy menyebutkan dalam kitab al-Qoulul Badi' fis Shalat Alal Habib as-Syafi' halaman: 56, diriwayatkan dari Abul Hasan al-Bakriy dan Abu Umarah Bin Zaid al-Madaniy dan Muhammad Bin Ishaq al-Muthallibiy mereka berkata:

Suatu hari ketika Rasulullah SAW berada di masjid, tiba-tiba seorang lelaki bercadar datang menemui beliau. Lelaki itu membuka cadar yang menutupi wajahnya dan berkata dengan fasih:

"Salam sejahtera untukmu duhai Rasulallah yang memiliki kemuliaan yang menjulang tinggi dan tak tertandingi."

Nabi SAW kemudian mendudukkan lelaki itu di antara beliau dan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu . Abu Bakar memandangi lelaki tersebut kemudian berkata kepada Rasulullah, "Duhai Rasulullah , mengapa engkau meletakkannya di antara aku dan engkau sedangkan aku mengetahui bahwa di muka bumi ini tidak ada seseorang yang engkau cintai melebihi diriku?"

Rasulullah SAW kemudian bersabda, "Duhai Abu Bakar, Jibril memberitahuku bahwa lelaki ini suka bersalawat kepadaku dengan sebuah salawat yang belum pernah dibaca oleh siapapun sebelumnya."

Sayyidina Abu Bakar pun lantas berkata, "Duhai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku salawat yang ia baca agar aku dapat bershalawat kepadamu dengannya."

Rasulullah kemudian menyebutkan salawat tersebut:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد في الأَوَّلِينَ وَالآخِرِينَ، وَفِي الْمَلأِ الأَعْلَى إِلَى يَوْمِ الْدِّينِ.

Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammadin wa 'ala Aali sayyidina Muhammadin fil awwalina wal Aakhirin, wa fil mala-il A'la ila yaumiddin.

"Ya Tuhan, curahkan rahmat pada junjungan kami Nabi Muhammad saw. dan keluarganya adalah semua nikmat yang diucapkan masa lalu dan masa depan, dan semua makhluk di langit hingga hari kiamat".

Abu Bakar kemudian bertanya, "Duhai Rasulullah, apakah balasan yang akan diperoleh seseorang yang membaca shalawat ini?" Rasulullah menjawab, "Duhai Abu Bakar, engkau telah menanyakan sesuatu yang aku tidak mampu menghitungnya. Seandainya lautan menjadi tinta, pepohonan menjadi pena dan para malaikat menjadi juru tulis. Maka lautan akan kering, pepohonan akan habis sedangkan para malaikat belum selesai mencatat pahala salawat ini." (Hadis ini diriwayatkan oleh Abul Faraj dalam Al-Muthrib).

Begitu dahsyatnya keutamaan salawat tersebut. Semoga kita bisa menghafalnya dan menghidupkannya karena orang yang mengamalkan salawat pasti diterima Allah Ta'ala. Wallahu A'lam Bisshowab

Shalawat Al In'am

Keistimewan Shalawat Al In'am Latin dan Artinya
Peranan Shalawat sangat penting bagi kehidupan seorang muslim sebagai bentuk komunikasi intens antara hamba dengan kekasih Allah yaitu Nabi Muhammad. Di samping itu, Shalawat menjadi faktor penentu doa supaya dikabulkan oleh Allah bahkan menjadi rukun dalam shalat wajib maupun shalat sunnah. Ini menandakan bahwa shalat tak akan diterima oleh Allah saat orang yang shalat tidak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad.

Ini bunyi Shalawat In'am:

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ عَدَدَ إِنْعَامِ الله وَأِفْضَالِهِ

Allahumma shalli wasallin wabarik ala sayyidina muhammadin wa'alalihi adada in'amillahi waifdhalih.

Artinya: 
Ya Allah berikan rahmat dan keselamatan juga keberkahan kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya dengan hitungan nikmat-nikamt Allah dan anugerahnya.

Keistimewaan Shalawat In'am
Syeh Yusuf An Nabhani dalam kitab Jami' As Shalawat mengutip pendapat imam Shawi bahwa orang yang membaca shalawat In'am akan membuka sumber kenikmatan dunia maupun nikmat akhirat.

Begitu pula, orang yang memperbanyak Shalawat In'am akan mendapatkan banyak pahala bahkan mendapatkan kedudukan yang tinggi di hadapan Allah dan Rasul-Nya. Di samping itu, peranan Shalawat In'am ini sebagai penarik rizki, usaha seseorang akan dimudahkan oleh Allah berkah shalawat kepada Nabi Muhammad.


Sholawat Sulthon Mahmud Al-Ghoznawi

Riwayat Sholawat
Sulthon Mahmud Al-Ghoznawi link :Sholawat Sulthon
Dinasti Ghazni, mulanya hanyalah sebuah kerajaan kecil di wilayah kerajaan Bani Saman. Dinasti ini didirikan oleh Alptgin, seorang budak dari dinasti Samaniah, pada permulaan paruh kedua abad X Masehi. Intrik dan pergantian kekuasaan terus terjadi hingga tiba masa pemerintahan Mahmud Ghaznawi, cicit Alptgin.

Sebagai penguasa terbesar dari dinasti ini, Mahmud Ghaznawi merupakan milestone bagi sejarah anak benua India di dalam hubungannya dengan dunia Islam. Ia menyatakan diri sebagai seorang penguasa merdeka dan untuk pertama kalinya memakai gelar Sultan.

Sejak tahun 1000 M hingga 1026 M, Mahmud telah memimpin tujuh belas kali ekspedisi ke India dan selalu memperoleh kemenangan dalam setiap ekspedisi. Ekspedisi pertamanya terjadi tahun 1000 terhadap kota-kota garis depan Khyber Pass. Ia berhasil merebut benteng dan kota tersebut. Sementara, ekspedisi terakhirnya, tahun 1027 dilakukan di wilayah yang didiami suku Jat.

Karena kejayaan perangnya, Khalifah di Baghdad sampai memberi Mahmud gelar Yamin al Daulah (tangan kanan kerajaan) dan Amin al Millah (orang kepercayaan agama).

Keberhasilan Sultan Mahmud disebabkan oleh berbagai faktor. Kondisi masyarakat Hindu India secara kuantitas lebih banyak, tetapi mereka tidak bersatu padu. Orang Hindu juga mengikuti metode perang yang sudah kuno dengan mengandalkan gajah. Sementara itu, pasukan Islam memiliki organisasi, disiplin, dan ikatan yang lebih baik. Hal itu semakin dikuatkan dengan kepemimpinan Sultan Mahmud yang taktis dan diplomatis.

Meskipun telah menaklukkan banyak tempat di India, Mahmud tidak menancapkan kekuasaannya di daerah-daerah taklukan tersebut kecuali Punjab. Para sejarawan lantas berbeda pendapat mengenai motif penaklukkan Mahmud Ghzanawi ini. Sebagian menekankan motif politik dan ekonomi, namun motif agama tetap yang utama.

Berkat ekspedisinya yang terus menerus tersebut, hampir seluruh wilayah India utara jatuh ke tangan Mahmud. Secara politis, ekspedisi-ekspedisi ini membuka jalan bagi penaklukkan India di masa yang akan datang oleh pasukan Islam.

Berawal dari sebuah kerajaan kecil, wilayah Dinasti Ghazni kemudian meluas dari pinggir laut Kaspi di sebelah utara sampai Sungai Gangga di India dan dari sungai Oxus di Asia Tengah sampai sungai Indus (Hind) di pesisir selatan.

Selama 34 tahun masa pemerintahannya, Sultan Mahmud sangat memperhatikan masalah kebudayaan dan pengetahuan. Ia dikenal sebagai pelindung terbesar bagi perkembangan ilmiah abad ke-11.

Sultan Mahmud membawa peradaban Hindu dan Islam ke arah hubungan yang dekat dan saling tukar ide. Al-Biruni juga pernah hidup bersama Sultan Ghaznawi dan menghasilkan karya Tahkik-i-Hind (Penelitian tentang India).
Riwayat shalawat tersebut :
Al-Habib Ali Bin Hasan al-Atthas Rahimahullah menyebutkan dalam kitab al-Qirthas Syarh Ratib al-Atthas: Ada seorang Sulthan (Raja) yang alim faqih Mujahid bernama Sulthon Mahmud Al-Ghaznawi/Al Ghornawi. Sepanjang hidupnya Raja ini selalu menyibukkan dirinya dengan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Setiap selesai shalat subuh, sang raja membaca shalawat sebanyak 300.000 kali. Begitu asyiknya raja membaca shalawat sebanyak itu, seolah-olah beliau lupa akan tugasnya sebagai seorang raja, yang di pundaknya tertumpu berbagai tugas negara dan berbagai macam harapan rakyatnya yang bergantung padanya. Sehingga kalau pagi tiba, sudah banyak rakyatnya yang berkumpul di istana menunggu sang raja, untuk mengadukan persoalannya.

Namun sang raja yang ditunggu-tunggu tidak kunjung hadir. Sebab sang raja tidak akan keluar dari kamarnya, walau hari telah siang, jika belum menyelesaikan wirid shalawatnya. Setelah kejadian ini berlangsung agak lama, pada suatu malam beliau bermimpi bertemu dengan RasulullaAh SAW.

Di dalam mimpinya, RasulullaAh SAW bertanya, “Mengapa kamu berlama-lama di dalam kamar..? Sedangkan rakyatmu selalu menunggu kehadiranmu untuk mengadukan berbagai persoalan mereka.” Raja menjawab, “Saya duduk berlama-lama begitu, tak lain karena saya membaca shalawat kepadamu sebanyak 300.000 kali, dan saya berjanji tidak akan keluar kamar sebelum bacaan shalawat saya selesai.”

Rasulullaah SAW lalu berkata, “Kalau begitu kasihan orang-orang yang punya keperluan dan orang-orang lemah yang memerlukan perhatianmu. Sekarang aku akan ajarkan kepadamu shalawat yang apabila kamu baca sekali saja, maka nilai pahalanya sama dengan bacaan 100.000 kali shalawat. Jadi kalau kamu baca tiga kali, pahalanya sama dengan 300.000 kali shalawat yang kamu baca.” Rasulullah SAW lalu membacakan lafazh shalawat yang kemudian dikenal dengan nama shalawat sulthon.

Akhirnya, raja Mahmud Al-Ghaznawi lalu mengikuti anjuran Rasulullaah SAW tersebut, yaitu membaca shalawat tadi sebanyak tiga kali. Dengan cara demikian,shalawat dapat beliau baca dan urusan negara dapat dijalankan dengan sempurna.

Setelah beberapa waktu mengamalkan shalawat itu, raja kembali bermimpi bertemu Rasulullah SAW. dan bertanya kepadanya :

ماذا فعلت حتى أتعبت الملائكة في كتابة ثوابك ؟
“Apa yang kau lakukan, sehingga malaikat kewalahan menulis pahala amalmu ? Raja menjawab :

ما عملت شيئا إلا الصلاة التي علمتني إياها
Saya tidak mengamalkan sesuatu, kecuali mengamalkan shalawat yang engkau ajarkan kepada saya itu. (Kitab Al-Qirthos Fi Manaqib Al Attas, Al-Habib Ali bin Hasan Al-Attas).

Berikut shalawatnya :

بسم الله الرحمن الرحيم
Bismillaahirrahmannirrahiim
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

اللهم صلّ وسلّم على سيّدنا محمد وَ عَلَى آل سيّدنا محمد بعدد رحمة الله
Alloohumma sholli wa sallim alaa sayyidinaa Muhammadin Wa alaa aalii sayyidinaa Muhammad bi-adadi rohmatillah.
Ya Allah limpahkanlah rahmat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW dan kepada keluarganya junjungan kami Nabi Muhammad SAW dengan sebanyak jumlah rahmat Allah.

اللّهم صلّ و سلّم على سيّدنا محمّد وَ عَلَى آل سيّد نا محمّدٍ بِعَدَدِ فضلِ الله
Alloohumma sholli wa sallim alaa sayyidinaa Muhammadin Wa alaa aalii sayyidinaa Muhammad bi-adadi fadhlillah.
Ya Allah limpahkanlah rahmat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW dan kepada keluarganya junjungan kami Nabi Muhammad SAW dengan sebanyak jumlah kebaikan Allah.

اَللّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّم عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ خَلقِ الله
Alloohumma sholli wa sallim alaa sayyidinaa Muhammadin Wa alaa aalii sayyidinaa Muhammad bi-adadi kholqillah.
Ya Allah limpahkanlah rahmat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW dan kepada keluarganya junjungan kami Nabi Muhammad SAW dengan sebanyak jumlah ciptaan Allah.

اَللّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّم عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ مَا فِى عِلمِ الله
Alloohumma sholli wa sallim alaa sayyidinaa Muhammadin Wa alaa aalii sayyidinaa Muhammad bi-adadi maa-fii ilmillah.
Ya Allah limpahkanlah rahmat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW dan kepada keluarganya junjungan kami Nabi Muhammad SAW dengan sebanyak jumlah ilmu Allah.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّم عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ كَلِمَاتِ الله
Alloohumma sholli wa sallim alaa sayyidinaa Muhammadin Wa alaa aalii sayyidinaa Muhammad bi-adadi kalimatillah.
Ya Allah limpahkanlah rahmat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW dan kepada keluarganya junjungan kami Nabi Muhammad SAW dengan sebanyak jumlah kalimat Allah.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّم عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ كَرَمِ الله
Alloohumma sholli wa sallim alaa sayyidinaa Muhammadin Wa alaa aalii sayyidinaa Muhammad bi-adadi karomillah.
Ya Allah limpahkanlah rahmat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW dan kepada keluarganya junjungan kami Nabi Muhammad SAW dengan sebanyak jumlah kemuliaan Allah.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّم عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ حُرُوفِ كَلاَمِ الله
Alloohumma sholli wa sallim alaa sayyidinaa Muhammadin Wa alaa aalii sayyidinaa Muhammad bi-adadi huruufi kalamillah.
Ya Allah limpahkanlah rahmat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW dan kepada keluarganya junjungan kami Nabi Muhammad SAW dengan sebanyak jumlah huruf dalam kalam Allah (kitab-kitab Allah).

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّم عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ قَطرِ الأمْطَار
Alloohumma sholli wa sallim alaa sayyidinaa Muhammadin Wa alaa aalii sayyidinaa Muhammad bi-adadi qothril amthoor.
Ya Allah limpahkanlah rahmat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW dan kepada keluarganya junjungan kami Nabi Muhammad SAW dengan sebanyak jumlah tetesan air hujan.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّم عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ وَرَقِ الأَشجَارِ
Alloohumma sholli wa sallim alaa sayyidinaa Muhammadin Wa alaa aalii sayyidinaa Muhammad bi-adadi waroqil asyjaar.
Ya Allah limpahkanlah rahmat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW dan kepada keluarganya junjungan kami Nabi Muhammad SAW dengan sebanyak jumlah daun pepohonan.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّم عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ رَمْلِ القِفارِ
Alloohumma sholli wa sallim alaa sayyidinaa Muhammadin Wa alaa aalii sayyidinaa Muhammad bi-adadi romlil qifaar.
Ya Allah limpahkanlah rahmat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW dan kepada keluarganya junjungan kami Nabi Muhammad SAW dengan sebanyak jumlah debu padang pasir.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّم عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ الحُبُوبِ وَالثِمَارِ
Alloohumma sholli wa sallim alaa sayyidinaa Muhammadin Wa alaa aalii
sayyidinaa Muhammad bi-adadil hubuubi wats-tsimaar.
Ya Allah limpahkanlah rahmat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW dan kepada keluarganya junjungan kami Nabi Muhammad SAW dengan sebanyak jumlah biji-bijian/buah-buahan.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّم عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ مَا اَظلَم عَلَيهِ اللَّيلُ وَ اَشْرَقَ عَلَيْهِ النَّهَارِ
Alloohumma sholli wa sallim alaa sayyidinaa Muhammadin Wa alaa aalii sayyidinaa Muhammad bi-adadi maa azhlama alaihil lailu wa asyroqo alaihin nahaar.
Ya Allah limpahkanlah rahmat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW dan kepada keluarganya junjungan kami Nabi Muhammad SAW dengan sebanyak jumlah pergantian siang dan malam.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّم عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ
Alloohumma sholli wa sallim alaa sayyidinaa Muhammadin Wa alaa aalii sayyidinaa Muhammad bi-adadi man sholla alaih.
Ya Allah limpahkanlah rahmat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW dan kepada keluarganya junjungan kami Nabi Muhammad SAW dengan sebanyak jumlah orang yang bershalawat kepadanya.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّم عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ مَنْ لَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِ
Alloohumma sholli wa sallim alaa sayyidinaa Muhammadin Wa alaa aalii sayyidinaa Muhammad bi-adadi man-lam yusholli alaih.
Ya Allah limpahkanlah rahmat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW dan kepada keluarganya junjungan kami Nabi Muhammad SAW dengan sebanyak jumlah orang yang tidak bershalawat kepadanya.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّم عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ اَنْفاسِ الْخَلا ئِقِ
Alloohumma sholli wa sallim alaa sayyidinaa Muhammadin Wa alaa aalii sayyidinaa Muhammad bi-adadi anfaasil kholaa’iq.
‎Ya Allah limpahkanlah rahmat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW dan kepada keluarganya junjungan kami Nabi Muhammad SAW dengan sebanyak jumlah tarikan nafas makhluk-makhluk Allah.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّم عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ نُجُوْمِ السَّموَاتِ

Alloohumma sholli wa sallim alaa sayyidinaa Muhammadin Wa alaa aalii sayyidinaa Muhammad bi-adadi nujuumis-samaawaat.
Ya Allah limpahkanlah rahmat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW dan kepada keluarganya junjungan kami Nabi Muhammad SAW dengan sebanyak jumlah bintang-bintang di langit.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّم عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ كُلِّ شَيْئٍ فِى الدُّنْيَا وَ الآخِرَةِ
Alloohumma sholli wa sallim alaa sayyidinaa Muhammadin Wa alaa aalii sayyidinaa Muhammad bi-adadi kulli syai’in fid-dunyaa wal akhiroh.
‎Ya Allah limpahkanlah rahmat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW dan kepada keluarganya junjungan kami Nabi Muhammad SAW dengan sebanyak jumlah kebaikan dunia dan akhirat.

وَصَلَوَاتُ اللهِ تَعَالى وَ مَلاَئِكَتِهِ وَأنْبِيَائِهِ وَرُسُلِهِ وَ جَمِيْعِ خَلْقِهِ عَلَى سَيِّدِالْمُرْسَلِيْن وَ إمَامِ المُتَّقِيْنَ وَ قَائِدِ الغُرِّ الْمُحَجَّلِيْنَ وَ شَفِيْعِ الْمُذ ْ نِبِيْنَ سَييِّدِ نَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَأصْحَابِهِ وَأزْوَاجِهِ وَ ذ ُ رِّيَّتِهِ وَ أهْلِ بَيْتِهِ وَالاَئِمَّةِ الْمَاضِيْنَ وَالْمَشَايِخ الْمُتَقَدِّمِيْنَ وَالشُّهَداءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَأهْلِ طَاعَتِكَ أجْمَعِيْنَ مِنْ أهْلِ السَّموَاتِ وَالأرَضِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا أرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَيَاأكْرَمَ الأكْرَمِيْنَ وَالْحَمْدُلِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن
Wa sholawaatullaahi ta'aalaa wa malaaikatihi wa anbiyaa-ihi wa rusulihi wa jamii'i kholqihi alaa sayyidil mursaliin, wa imaamil muttaqiin wa qoo-idil ghurril muhajjaliin wa syafii'il mudznibiina sayyidinaa Muhammadin wa alaa aalihi wa ashhaabihii wa azwaajihi wa dzurriyyatihi wa ahli baitihi wal a-immatil maadhina wal masyaayikhil mutaqoddimiin wasy-syuhadaa'i wash-shoolihiin wa ahli tho'atika ajma'iin min ahlis samaawaati wa ahlil ardhiina birohmatika yaa arhamaar-rohimiin, Yaa akromal akromiin walhamdulillaahi robbil aalamiin.


Dan segenap shalawat dari Allah beserta para malaikat-Nya, dan para Nabi-Nya, dan para Rasul-Nya, dan seluruh ciptaan-Nya, semoga tercurah atas junjungan para Rasul, pemimpin orang-orang yang bertaqwa, pemuka para ahli surga, pemberi syafa’at orang-orang yang berdosa, Nabi Muhammad dan juga atas keluarganya, para sahabatnya, istri-istrinya, keturunannya, ahli baitnya, para pemimpin yang telah lampau, para guru yang terdahulu, para syuhada dan orang-orang soleh, dan yang senantiasa taat kepada Allah seluruhnya, dari penghuni bumi dan langit, dengan rahmat-Mu, wahai yang Maha Pengasih dan Penyayang, dan Engkau Yang Maha Mulia dari semua yang mulia, segala pujian bagi Allah Tuhan alam semesta”.


Al-faqir ijazahkan shalawat sulthon ini bagi siapa saja yang mau mengamalkannya,..


Sultan Mahmud Bin Sabaktekin Al Ghaznawiy adalah tokoh besar dalam Islam, penakluk hebat yang pasukan berkudanya berhasil mencapai India, dan menegakkan panji-panji Islam di sana. Konon luas wilayah yang berhasil ditundukkannya setara dengan jumlah seluruh penaklukkan yang terjadi di masa Amirul Mukminin Umar bin Khatthab radhiyallahu anhu. Sultan Mahmud dilahirkan pada tahun 971 Masehi / 361 Hijriyah. Wafat pada tahun 1030 Masehi / 421 Hijriyah. Penyebutan Ghaznawi dihubungan kepada kota tempat kelahiran dan wafat beliau, Ghaznah, Khurasan.

Pada awalnya, Khurasan Raya merupakan wilayah sangat luas membentang meliputi; kota Nishapur dan Tus (Iran); Herat, Balkh, Kabul dan Ghazni (Afghanistan); Merv dan Sanjan (Turkmenistan), Samarkand dan Bukhara (Uzbekistan); Khujand dan Panjakent (Tajikistan); Balochistan (Pakistan, Afghanistan, Iran).
Kini, nama Khurasan tetap abadi menjadi sebuah nama provinsi di sebelah Timur Republik Islam Iran. Luas provinsi itu mencapai 314 ribu kilometer persegi. Khurasan Iran berbatasan dengan Republik Turkmenistan di sebelah Utara dan di sebelah Timur dengan Afganistan. Dalam bahasa Persia, Khurasan berarti ‘Tanah Matahari Terbit.’

Sultan Mahmud al-Ghaznawiy pada mulanya berafiliasi dengan mazhab Imam Abu Hanifah, kemudian setelah banyakbelajar dengan para ulama mazahab Imam Syafii, beliau pindah haluan ke mazhab Imam Syafii. Di antara ulama yang pernah belajar kepada Sulthan Mahmud al-Ghaznawiy, adalah Syekhul Islam Abu Ismail al-Harawiy al-Hambaliy rahimahullah.

Abu Ismail Abdullah Bin Muhammad Bin Ali Al Harawi. Dilahirkan pada tahun 396 Hijriyah/ 1006 Masehi. wafat pada tahun 481 Hijriyah/ 1089 Masehi. Nama Al Harawi berasal dari nama tempat lahirnya yaitu di Herrat, Khurasan, dan terkenal juga dengan nama Abdullah Al Anshari, karena ia merupakan keturunan dari Abu Ayyub Al Anshari, seorang sahabat Nabi.


Al Harawi adalah seorang pemegang teguh ajaran Islam, sebagaimana penganut madzhab hambali, ia selalu menyandarkan argumen pada Al Qur’an dan Sunnah. Ia kritik dan kecam ahli-ahli sufi yang dinilainya banyak bertentangan dengan ajaran islam. Hal ini membuat banyak yang tersinggung, sehingga ia ditangkap dan dipenjarakan. Dan ketika dibebaskan dari penjara, ia mengembara ke berbagai negeri untuk mengajarkan ilmu-ilmunya.
Karyanya:

@ Manazilus Sairin, kitab yang berisi tentang pendakian spiritual (tasauf). Kitab ini sangat terkenal, sehingga banyak ulama yang datang kemudian mensyarahkan (memberi ulasan / penjelasan) tentang kitab ini, diantaranya Ibnul Qayyim Al Jauziyah, dengan kitabnya Madarijus Salikin.

@ Thabaqat Shufiyah, kitab yang berisi kisah kehidupan ahli-ahli tasauf.
@ Al Mufaja’at
@ Kiyab Zam Ilm Al kalam Wa Ahlih
@ Sirat Al Imam Ahmad Bin Hambal
Adapun sanad muttashil kepada Sultan Mahmud Bin Sabaktekin Al Ghaznawiy, al-Faqir riwayatkan sebagai berikut:
ابو الاسني احمد الحسني عن العلامة السيد عبد الرحمن الكتاني عن والده الحافظ محمد بن عبد الحي الكتاني عن شيخه عبد الله السكري الدمشقي عن عبد الرحمن الكزبري الدمشقي عن مصطفى الرحمتي الأيوبي الدمشقي عن صالح بن إبراهيم الجنيني الدمشقي عن محمد بن سليمان الرداني عن المعمر بقية المسندين محمد بن بدر الدين البلباني الصالحي الدمشقي عن الشهابين أحمد بن عليّ المفلحي الوفائي وأحمد بن يونس العيتاوي، كلاهما عن مسند دمشق ابن طولون الدمشقي عن أبي البقاء محمد بن العماد العمري عن عائشة بنت إبراهيم ابن الشرائحي عن أبي حفص عمر بن أميلة عن الفخر ابن البخاري عن يوسف بن المبارك الخفاف عن عبد الملك بن ابي سهل الكروخي عن شيخ الاسلام ابي اسماعيل عبد الله بن محمد الهروي عن السلطان ابي القاسم محمود بن سبكتكين الغزنوي رحمه الله .‎

Wallohul Waliyyut Taufiq Ila Sabilul Huda‎


Sholawat Kang Ujang Bustomi
Ustadz Ujang Bustomi akan membagikan bacaan sholawat yang sering diamalkan oleh dirinya. 

Berikut merupakan sholawat yang sering dilakukan oleh Ustadz Ujang Bustomi:

"Allahuma sholi 'ala Muhammad Ya Robbi sholi 'alayhi wasallim. Robbi fanfa'na bi barkatihim wahdinal husna bi hurmatihim."

Artinya: Ya Allah limpahkanlah rahmat ta'dzim kepada Nabi Muhammad SAW. Wahai Tuhanku limpahkan rahmat dan kesejahteraan padanya. Ya Allah, dengan barokah mereka, berilah kami kemanfaatan. Dan dengan kehormatan mereka, tunjukkan kami kepada kebaikan.

Terbaru ini sholawat Nabi yang juga dibacakan Ustaz Ujang Bustomi lengkap dengan terjemahan dan artinya.

اللهم صل علی محمد ؛ يا رب صل عليه وسلم
"Allahuma sholi 'ala Muhammad Ya Robbi Sholi 'alayhi wasallim"

Artinya: Ya Allah limpahkanlah rahmat ta'dzim kepada Nabi Muhammad SAW. Wahai Tuhanku limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan padanya"

رب فانفعنا ببرگتهم
Robbi Fanfa'na Bibarkatihim
واهدناالحسنی بحرمتهم
Wahdinal Husna Bihurmatihim
Artinya: " Ya Allah dengan barokah mereka, berilah kami kemanfaatan dan dengan kehormatan mereka, tunjukkan kami kepada kebaikan"

Keutamaan sholawat dan adab-adabnya

Setelah Allah SWT menurunkan Surah Al-Ahzab ayat 56, yaitu memuat perintah untuk bershalawat kepada kekasih-Nya, Nabi Muhammad SAW, Ubay bin Ka’ab pergi mendatangi dan bertanya langsung kepada Rasulullah SAW tentang seberapa banyak shalawat yang harus dibacanya. Rasulullah menjawab tanpa memberi jumlah hitungan yang pasti dan menyerahkan sepenuhnya kepada Ubay bin Ka’ab sesuai kemampuannya. Beliau hanya memberikan kepastian bahwa semakin banyak bershalawat maka semakin banyak kebaikan yang akan diberikan Allah SWT.

Hadist riwayat Imam Ahmad dari Ubay bin Ka’ab, dia berkata: “Ada seseorang bertanya kepada Nabi SAW. Wahai Rasulullah, bagaimana seandainya saya senantiasa bershalawat kepada engkau? Nabi SAW menjawab: Jika begitu maka Allah SWT akan mencukupkan apa yang kamu inginkan, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.”

Abu al-Laist al-Samarqandi mengatakan, ‘Jika kamu ingin mengetahui keutamaan bershalawat daripada ibadah-ibadah yang lain, perhatikanlah firman Allah SWT Surah Al-Ahzab ayat 56. Ketika Allah SWT mewajibkan sebuah ibadah kepada hamba-Nya, Dia sendiri tidak mengerjakan ibadah tersebut. Akan tetapi ketika Allah memberi perintah untuk bershalawat kepada Nabi SAW, sebelum malaikat dan manusia bershalawat, Allah sudah bershalawat terlebih dahulu, memberikan rahmat ta’dzim kepada Nabi SAW”.

Banyak risalah yang menerangkan keutamaan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, baik riwayat berupa hadist maupun berupa kalam para ulama. Menurut Sayyid Muhammad bin Abbas al-Maliki, “pena dan buku tidak akan mampu menghimpun keutaman bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW’. Perkataan Sayyid Muhammad ini tidak berlebihan karena memang Baginda Nabi SAW merupakan nabi istimewa penutup semua utusan Allah SWT dan orang pilihan yang dimuliakan-Nya.

Bershalawat, selain perintah secara langsung dari Allah SWT – yang Dia dan para malaikat menunaikan – juga memiliki banyak keutamaan yang akan diperoleh oleh para hamba yang membacanya, karena bagian dari keimanan dan cinta kepada Allah SWT.

Keutamaan pertama, dijanjikan pahala berlipat. Hal ini sebagaimana riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah, dia berkata:

مَنْ صَلَّي عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى الله عَلَيْهِ عَشْرًا

Artinya: “Nabi Muhammad SAW bersabda; barang siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali”.

Kedua, dosanya diampuni Allah SWT sesuai kecintaan dan keikhlasannya dalam membaca shalawat kepada Rasulullah SAW. Imam Al-Thabrani dan Abi ‘Ashim meriwayatkan hadits dari Abi Kahil, dia berkata:

قَالَ لِيْ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: يَا اَبَا كَاهِل، مَنْ صَلَّى عَلَيَّ كُلَّ يَوْمٍ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ وَكُلَّ لَيْلةَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ حُبًّا وَشَوْقًا اِلَيَّ، كَانَ حَقا على الله اَنْ يَغْفِرَ له ذُنُوْبَه تلك الليلة وَذَلِكَ اْليَوْمَ.

Artinya: Nabi Muhammad. berkata kepada saya: Wahai Abu Kahil, barang siapa bershalawat atasku setiap hari tiga kali dan setiap malam tiga kali karena kecintaan dan kerinduan kepadaku maka hak atas Allah SWT untuk mengampuni dosa-dosanya pada malam itu dan hari itu”.

Ketiga, dikabulkan doa dan hajatnya. Dalam hadits riwayat Imam Ahmad, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu membaca shalawat, hendaklah dimulai dengan mengagungkan Allah SWT dan memuji-Nya. Setelah itu, bacalah shalawat kepada Nabi Saw. Dan setelah itu, barulah berdoa dengan doa yang dikehendaki”.

Dalam hadis yang lain riwayat Thabrani, “Setiap doa akan terhalang (untuk dikabulkan) hingga dibacakan shalawat kepada Muhammad SAW dan keluarganya”.

Keempat, dikumpulkan di surga bersama Rasulullah SAW. Dalam hadis riwayat Tirmidzi, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Manusia yang paling berhak bersamaku pada hari kiamat ialah yang paling banyak membaca shalawat kepadaku“.

Kelima, mendapatkan syafaat Nabi Muhammad SAW. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya orang yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah SWT akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Lalu, mintalah kepada Allah wasilah untukku karena wasilah adalah sebuat tempat di surga yang tidak akan dikaruniakan, melainkan kepada salah satu hamba Allah SWT. Dan, aku berharap bahwa akulah hamba tersebut. Barang siapa memohon untukku wasilah, maka ia akan meraih syafaat.”

Inilah sebagian riwayat yang menjelaskan keutamaan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Masih banyak riwayat lain yang tidak mungkin disebutkan semua disini. Semoga Allah SWT memudahkan kita semua untuk senantiasa membaca shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW.

Tentu, membaca shalawat dan salam ini memiliki adab dan aturan tersendiri. Sayyid Muhammad bin Abbas al-Maliki dalam kitabnya Ma Dza Fi Sya’ban menyebutkan beberapa adab dan aturan tersebut. Salah satunya adalah ketika bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW hendaknya juga disertai dengan membaca salam. Shalawat dan salam ini harus diucapkan bersamaan, salah satunya tidak boleh ditinggalkan. Misal hanya bershalawat saja atau hanya membaca salam saja. Keduanya harus dibaca bersamaan, sesuai perintah Allah dalam surah Al-ahzab ayat 56 tersebut.

Berkaitan dengan hal ini, Al-Ghazali dalam Kitab Al-Ihya’ memuat kisah mimpinya seorang ulama bertemu Rasulullah SAW. Dia berkisah, “Saya menulis hadits dan membaca shalawat di dalamnya namun tidak membaca salam. Kemudian saya bermimpi bertemu Nabi SAW dan beliau menegur seraya berkata: “Kenapa kamu tidak menyempurnakan bacaan shalawat dengan bacaan salam?” Sejak saat itu saya tidak menulis hadits kecuali membaca shalawat disertai salam kepada beliau.”

Sebagian adab yang lain adalah mengeraskan suara ketika membaca shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW. Membaca shalawat dan salam tidak cukup dengan hati, tapi juga melalui lisan dengan suara yang agak keras sehingga dirinya dan orang lain di sekitarnya mendengar bacaan tersebut. Hal ini dimaksudkan agar orang lain termotivasi untuk juga mengikuti membaca shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW. Karena, sependek pengetahuan penulis, satu-satunya amalan yang tetap diterima oleh Allah Yang Maha Pemurah meskipun riya’ yaitu hanyalah membaca shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW.

Imam al-Nawawi mengatakan, “Disunahkan bagi setiap pembaca hadist atau lainnya untuk mengeraskan suara ketika membaca shalawat dan salam terutama ketika nama Nabi Muhammad SAW disebut. Namun, dalam mengeraskan suara ini jangan sampai berlebihan, sewajarnya saja.” Sedangkan sebagian ulama lain yang menganjurkan mengeraskan suara ketika membaca shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW adalah Imam al-A’dzam Abu Bakar al-Khatib al-Baghdadi dan ulama lainnya. Dengan demikian orang yang mendengar nama Rasulullah SAW disebut maka kewajiban bagi dirinya untuk membaca shalawat dan salam kepada Baginda Rasulullah SAW.

Wa Allahu a’lam bishawab.

Sholawat Jibril Pernahkah Nabi Muhammad SAW Memberi Contoh?

SHOLAWAT Jibril apakah Nabi Muhammad SAW pernah mencontohkannya sehingga menjadi amalan sunah bagi umatnya hingga akhir zaman. Bagi kaum Muslimin amalan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW adalah ibadah yang dianjurkan.

Ustadz Umar Alfaruq dalam pesannya menjelaskan Sholawat Jibril berlandaskan dari hadits palsu dan sholawat nuridzati pun demikian dikarang oleh Sufi Syadzili yang tidak ada petunjuknya dari sunah.

"Sebaik baik sholawat adalah apa yang telah diajarkan oleh Nabi dan apa yang telah dibaca sahabat Nabi karena mereka merekalah sebaik baik contoh," ujarnya.

Jika benar Sholawat JIbril itu ada, kata dia, maka tentulah Nabi Muhammad SAW sudah memberi contoh dan mengajarkan terlebih dahulu.

Sementara itu Ustaz Muhammad Abduh Tuasikal menjelaskan setiap amalan ibadah tentu harus berlandasakan apa yang telah dicontohkan dan dikerjakan oleh Rasulullah SAW. Sehingga amalan ibadah mempunyai landasan dalil yang jelas, bukan hanya karena hawa nafsu manusia semata.

Sholawat kepada Nabi Muhammad SAW memang sangat dianjurkan terutama sekali pada Kamis malam Jumat atau pada Hari Jumat.

Adapaun keutamaan bersholawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yakni;

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ أَوْ سَأَلَ لِي الوَسِيْلَةَ حَقَّتْ عَلَيْهِ شَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ

“Barangsiapa bershalawat kepadaku atau meminta agar aku mendapatkan wasilah, maka dia berhak mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat nanti.” (Hadits ini terdapat dalam Fadhlu Ash Sholah ‘alan Nabiy no. 50, Isma’il bin Ishaq Al Jahdiy. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)

Ustaz Muhammad Abduh Tuasikal menjelaskan, dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim no. 408)

Di antara sholawat yang dianjurkan dan dicontohkan dapat diamalkan adalah:

1. Dari Zaid bin Abdullah berkata bahwa sesungguhnya mereka dianjurkan mengucapkan,

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ

“Allahumma sholli ‘ala Muhammad an nabiyyil ummiyyi. [Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad Nabi yang Ummi]” (Fadhlu Ash Sholah ‘alan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam no. 60. Syaikh Al Albani mengomentari bahwa hadits ini shohih)

2. Dari Ka’ab bin ‘Ujroh, beliau mengatakan,

“Wahai Rasulullah, kami sudah mengetahu bagaimana kami mengucapkan salam padamu. Lalu bagaimana kami bershalawat padamu?” 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ucapkanlah,

اللَّهُمَّ صّلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad 
kama shollaita ‘ala ali Ibrahim, 
innaka hamidun majid

Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan kerabatnya 
karena engkau memberi shalawat kepada kerabat Ibrahim. 
Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia
(Fadhlu Ash Sholah ‘alan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam no. 56. Syaikh Al Albani mengomentari bahwa sanad hadits ini shohih)

3. Dalam riwayat Bukhari no. 3370 terdapat lafazh shalawat sebagai berikut,

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

“Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad 
kama shollaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, 
innaka hamidun majid. 
Allahumma barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad 
kama barokta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, 
innaka hamidun majid.” 

Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan kerabatnya 
karena engkau memberi shalawat kepada Ibrahim dan kerabatnya. 
Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. 
Ya Allah, berilah keberkahan kepada Muhammad dan kerabatnya 
karena engkau memberi keberkahan kepada Ibrahim dan kerabatnya. 
Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia

Itulah bacaan sholawat yang dapat diamalkan dan hendaknya mencukupkan diri dengan shalawat yang telah diajarkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Janganlah mengamalkan shalawat yang sebenarnya tidak ada tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam


Hadis-hadis Keutamaan Shalawat

Pertama, dikabulkan doanya. Rasulullah ﷺ bersabda:

سمعَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ رجلًا يَدعو في صلاتِهِ لم يُمجِّدِ اللَّهَ تعالى ولم يُصلِّ علَى النَّبيِّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ فقالَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ عجِلَ هذا ثمَّ دعاهُ فقالَ لَهُ أو لغيرِهِ إذا صلَّى أحدُكُم فليَبدَأ بتَمجيدِ ربِّهِ جلَّ وعزَّ والثَّناءِ علَيهِ ثمَّ يصلِّي علَى النَّبيِّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ ثمَّ يَدعو بَعدُ بما شاءَ

"Apabila salah seorang di antara kamu membaca shalawat, hendaklah dimulai dengan mengagungkan Allah Azza wa Jalla dan memuji-Nya. Setelah itu, bacalah shalawat kepada Nabi. Dan setelah itu, barulah berdoa dengan doa yang dikehendaki." (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi).

Kedua, dijanjikan pahala berlipat. 
Orang yang membaca sholawat dengan menghadirkan hati dan memahami maknanya akan mendapat 10 rahmat dari Allah Taala. 

Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. 
(QS Al-Ahzab: 56) 

Untuk diketahui, Sholawat dari Allah adalah rahmat dan pujian baginya. Sholawat Malaikat adalah doa dan pujian baginya. Sedangkan sholawat orang-orang beriman kepada Rasulullah adalah pujian dan doa agar Allah meninggikan derajatnya dan menambah kemuliaannya. Imam Asy-Sya'rony berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda:

 ‎من قال هذه الصلاة فقد فتح على نفسه سبعين بابا من الرحمة وألقى الله محبته في قلوب الناس فلا يبغضه إلا من في قلبه نفاق 

"Barang siapa mengucapkan sholawat ini (shallallahu 'alaa Muhammad) maka sugguh telah membuka 70 rahmat untuk dirinya dan Allah menjadikanya dicinta dalam hati manusia hingga tidak ada yang membencinya kecuali hanya orang yang dihatinya terdapat kemunafikan" 

Hadis-hadis Keutamaan Shalawat kepada Nabi Saw.
Hadis-hadis tentang fadhilah atau keutamaan membaca shalawat kepada Nabi saw. 

Hadis Pertama:

قال النبي صلى الله عليه وسلم: {مَنْ صَلَّى عَليَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا}.

Nabi Muhammad saw. bersabda, “Siapa yang membaca shalawat atasku satu kali, maka Allah akan bershalawat (memberikan rahmat) untuknya sepuluh kali.”

Hadis Kedua:

وقال النبي صلى الله عليه وسلم: {مَنْ صَلَّى عَلَيَّ أَلْفَ مَرَّةٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يُبَشَّرَ لَهُ بِالجَنَّةِ}.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang membaca shalawat atasku seribu kali, maka ia tidak akan meninggal dunia sampai diberikan kabar gembira masuk surga untuknya.”

Hadis Ketiga:

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ صَلَّى عَليَّ صَلاَةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا، وَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ عَشْرًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا ماِئَةً، وَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ مِائَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا ألْفًا، وَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ ألْفًا لَمْ تَمسَّهُ النَّارُ}.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang membaca shalawat atasku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali, siapa yang membaca shalawat atasku sepuluh kali, maka Allah akan bershalawat atasnya seratus kali, siapa yang bershalawat atasku seratus kali, Maka Allah akan bershalawat untuknya seribu kali, dan siapa yang shalawat atasku seribu kali, maka api neraka tidak akan menyentuhnya.”

Hadis Keempat:

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ نَسِيَ الصَّلاَةَ عَلَيَّ فَقَدْ أَخْطَأَ طَرِيْقَ الجَنَّةِ}.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang lupa membaca shalawat atasku (dengan sengaja), maka sungguh ia telah salah (dalam melewati) jalan surga.”

Hadis Kelima:

وقال صلى الله عليه وسلم: {إنَّ أوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ القِيَامَةِ أكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلاَةً}.

Nabi saw. bersabda, “Sungguh manusia yang paling pertama bersamaku di Hari Kiamat adalah yang paling banyak bershalawat atasku.”

Hadis Keenam:

وقال صلى الله عليه وسلم: {صَلاَتُكُمْ عَلَيَّ مَحَّاقَةٌ}.

Nabi saw. bersabda, “Shalawat kalian atasku adalah dapat menjadi pelebur (dosa-dosa kalian).”

Hadis Ketujuh:

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ صَلَّى عَلَيَّ في كُلِّ جُمُعَةٍ أرْبَعِينَ مَرَّةً مَحَا الله ذُنُوبَهُ كُلَّهَا}.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang shalawat atasku di setiap hari Jumat empat puluh kali maka Allah akan menghapus dosanya semuanya.”

Hadis Kedelapan:

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَا مِنْ دُعاءٍ إلا بَيْنَهُ وَبَيْنَ السَّماءِ حِجَابٌ حَتَّى يُصَلِّيَ عَلَيَّ ، فإذا صَلَّى عَلَيَّ انْخَرَقَ ذالِكَ الحِجَابُ وَرُفِعَ الدُّعَاءُ}.

Nabi saw. bersabda, “Tidak ada doa kecuali antaranya dan langit terdapat penghalang sampai ia bershalawat atasku, jika ia bershalawat atasku maka hijab (penghalang) itu akan terkoyak dan doa akan diangkat (tembus ke langit).”

Hadis Kesembilan:

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِيْ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ قَضَى اللهُ لَهُ مِائَةَ حَاجَةٍ سَبْعِيْنَ مِنْهَا لِآخِرَتِهِ وَثَلاَثِيْنَ مِنْهَا لِدُنْيَاهُ}.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang bershalawat atasku dalam sehari seratus kali, maka Allah akan menyelesaikan kebutuhannya tujuh puluh di antaranya untuk akhiratnya dan tiga puluh darinya untuk dunianya.:

Hadis Kesepuluh:

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَمَلاَئِكَتُهُ عِشْرِيْنَ مَرَّةً وَلَمْ يَمُتْ حَتَّى يُبَشَّرَ بِالجَنَّةِ}.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang bershalawat atasku shalawat satu kali, maka Allah dan malaikat akan bershalawat atasnya sebanyak dua puluh kali dan ia tidak akan meninggal dunia sampai diberikan kabar gembira dengan surga.”

Demikianlah sepuluh hadis yang telah dijelaskan oleh imam As-Suyuthi tentang keutamaan membaca shalawat kepada Nabi saw. di dalam kitabnya yang berjudul Lubbabul Hadits. Di mana di dalam kitab tersebut, beliau menjelaskan empat puluh bab dan setiap bab beliau menuliskan sepuluh hadis dengan tidak menyantumkan sanad untuk meringkas dan mempermudah orang yang mempelajarinya.

Meskipun begitu, di dalam pendahuluan kitab tersebut, imam As-Suyuthi menerangkan bahwa hadis nabi, atsar, maupun riwayat yang beliau sampaikan adalah berdasarkan sanad yang shahih (meskipun menurut imam An-Nawawi ketika mensyarah kitab ini di dalam kitab Tanqihul Qaul Al-Hatsits mengatakan ada hadis dhaif di dalamnya, hanya saja masih bisa dijadikan pegangan untuk fadhailul a’mal dan tidak perlu diabaikan sebagaimana kesepakatan ulama). Wa Allahu A’lam bis Shawab.

Dalam buku Rahasia Dahsyat Shalawat Keajaiban Lafadz Rasulullah SAW yang ditulis oleh M. Kamaluddin, para ulama memiliki sejumlah pandangan mengenai sholawat. Pendapat ini ada yang diangkat dari kaidah agama dan ada pula yang berdasar pada keyakinan dan pengaruh zaman Dzauqiyah dan hasil mukasyafah. Berikut di antaranya:
  • Bacaan sholawat adalah jalan ke surga.
  • Memperbanyak bacaan sholawat adalah suatu tanda golongan atau ahli sunnah kata.
  • Memperbanyak sholawat merupakan jalan yang paling dekat kepada Allah SWT pada akhir zaman.
  • Sholawat dapat menjernihkan hati dan Ma'rifat Billah.
  • Sholawat dapat mewushulkan tanpa guru.
  • Sholawat diterima secara mutlak oleh Allah SWT.
  • Sholawat menambah rasa cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
  • Tercetaknya pribadi Rasulullah SAW dalam hati orang yang membaca sholawat.
  • Orang yang ahli sholawat ketika sakaratul maut akan didatangi oleh Rasulullah SAW dan mudah mimpi bertemu beliau. Wallahu a'lam.

PERBANYAKLAH MENGINGAT DAN MENYEBUT NABI SHALLALLAHU ALAIHI WA SALAM
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Di Antara Bukti dan Tanda Cinta Kepada Nabi Muhammad saw

Karena orang yang mencintai sesuatu, tentu akan banyak mengingat dan menyebutnya. Ini menjadi sebab tumbuh dan bersinambungnya kecintaan. Yang dimaksud banyak mengingat dan menyebut beliau Muhammad saw, tentunya dalam hal yang disyariatkan. Di antaranya adalah menyampaikan shalawat dan salam kepada beliau Nabi Muhammad saw

 untuk mengamalkan firman Allah:
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi, dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” [Faathir : 56]. Juga hadis Nabi Muhammad sawnyang berbunyi :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَهَبَ ثُلُثَا اللَّيْلِ قَامَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا اللَّهَ اذْكُرُوا اللَّهَ جَاءَتْ الرَّاجِفَةُ تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ جَاءَ الْمَوْتُ بِمَا فِيهِ جَاءَ الْمَوْتُ بِمَا فِيهِ قَالَ أُبَيٌّ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُكْثِرُ الصَّلَاةَ عَلَيْكَ فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلَاتِي فَقَالَ مَا شِئْتَ قَالَ قُلْتُ الرُّبُعَ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قُلْتُ النِّصْفَ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قَالَ قُلْتُ فَالثُّلُثَيْنِ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قُلْتُ أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا قَالَ إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ

Nabi Muhammad saw dulu, bila berlalu dua pertiga malam, beliau bangun dan berkata: “Wahai, sekalian manusia! Berzikirlah kepada Allah, berzikirlah kepada Allah. Pasti datang tiupan Sangkakala pertama yang diikuti dengan yang kedua. Datang kematian dengan kengeriannya, datang kematian dengan kengeriannya”.

Ubai berkata: Aku bertanya: ”Wahai, Rasulullah! Aku memerbanyak shalawat untukmu. Berapa banyak aku bershalawat untukmu?”
Beliau Nabi Muhammad saw menjawab: ”Sesukamu.” Lalu Ubai berkata lagi: 
Aku berkata: ”Seperempat.”
Beliau Nabi Muhammad saw berkata: ”Terserah. Tetapi jika engkau tambah, maka itu lebih baik.” 
Aku berkata: ”Setengahnya.”
Beliau Nabi Muhammad saw menjawab lagi: “Terserah, tetapi jika engkau tambah, maka itu lebih baik bagimu.” Maka aku berkata lagi: “Kalau begitu, dua pertiga”.
Beliau Nabi Muhammad saw menjawab: ”Terserah. Jika engkau tambah, maka itu lebih baik bagimu.” Lalu aku berkata: ”Aku jadikan seluruh (doaku) adalah shalawat untukmu,” Maka Nabi Muhammad saw menjawab: “Jika begitu (shalawat) itu mencukupkan keinginanmu (dunia dan Akhirat) dan Allah akan mengampuni dosamu”. [HR at Tirmidzi, kitab Sifat al Qiyamah, no. 2457 dan Syaikh al Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah (no. 954) menyatakan sanadnya Hasan, karena perbedaan ulama yang terkenal tentang Ibnu Uqail]

Ibnul Qayyim menyatakan: Syaikh kami Abul Abas Ibnu Taimiyah ditanya tentang tafsir hadis ini, beliau mengatakan, waktu itu Ubai memiliki doa yang digunakan untuk dirinya sendiri. Lalu Nabi Nabi Muhammad saw bertanya: 

Apakah ia menjadikan seperempat doanya juga untuk bershalawat kepada beliau Nabi Muhammad saw? Lalu beliau Nabi Muhammad saw berkata lagi: “… Jika engkau tambah, maka itu lebih baik bagimu.” Dia menjawab: “Setengahnya”. Lalu beliau Rasulullah sholullahi alayhi wasalam berkata: “… Jika engkau tambah, maka itu lebih baik bagimu.” Sampai kemudian Ubai menyatakan: “Aku jadikan seluruh (doaku) adalah shalawat untukmu”. Lalu Nabi Muhammad saw menjawab: “Jika begitu (shalawat) itu mencukupkan keinginanmu (dunia dan Akhirat) dan Allah akan mengampuni dosamu”

Demikian ini, karena orang yang bershalawat satu kali untuk Nabi Muhammad saw, ia akan mendapatkan shalawat dari Allah sepuluh kali. Dan barang siapa yang mendapat shalawat Allah, maka tentu akan dapat mencukupi semua keinginannya, dan diampuni dosa-dosanya. Inilah pengertian ucapan beliau ﷺ. [Jala’ al Afhaam fi Fadhli ash Shalat wa as Salam ‘ala Khairil Anam, Ibnul Qayyim, tahqiq Zaid bin Ahmad an Nasyiri, Cet. Pertama, Th. 1425H, Dar ‘Alam al Fawaaid, hlm. 76]


Syekh Ali Jum’ah

Syekh Ali Jum’ah: Shalawat Nabi Merupakan Ikrar Tauhid kepada Allah

.
Shalawat Nabi merupakan bentuk ikrar tauhid karena dimulai dengan meminta rahmat dari Allah lalu diakhiri dengan iman kepada Nabi Muhammad pemimpin para makhluk . Salah satu bukti kecintaan kita kepada Baginda Nabi Muhammad SAW adalah dengan memperbanyak shalawat. Shalawat kepada Nabi termasuk salah satu sebab melimpahnya keberkahan dan kebaikan yang kita rasakan.

Sekarang ini, rasa keberkahan telah berkurang. Hal itu tidak lain disebabkan banyak dari kita yang enggan atau berpaling dari memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Syaikh Ali Jumah, mantan mufti Mesir mengemukakan, ada sebuah desa di Maroko sedang mengalami masa paceklik dan kekeringan.

Lalu seorang wanita datang dan duduk di dekat sumur yang hampir mengering. Dia berdoa kepada Allah SWT dan tiba-tiba sumber air dalam sumur itu keluar dengan derasnya.


Kemudian Syaikh Al-Jazuli mendatangi wanita tersebut dan bertanya tentang doa apa yang ia panjatkan kepada Allah SWT. Wanita itu menjawab, “Aku tidak meminta apa-apa kepada-Nya. Aku hanya membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.” Lalu wanita itu duduk di pinggir makam dengan membaca shalawat kepada Nabi. Allah SWT melihatnya dengan penuh rahmat dan mengabulkan doanya, lalu memancarlah sumber air sumur tersebut dan penduduk desa selamat dari bencana kekeringan.

Peristiwa inilah yang kemudian mendorong Syaikh Al-Jazuli untuk menyusun kitabnya Dalail Al-Khairat. Kitab itu tersebar luas ke seluruh penjuru dunia mengajarkan shalawat kepada orang-orang dengan banyak redaksi yang penuh berkah. Lisan orang-orang yang senantiasa bershalawat kepada Nabi SAW menjadikan hati mereka penuh cahaya ilahi.

Berkah shalawat, Allah SWT meringankan beban-beban duniawi dan permasalahan mereka, serta memudahkan urusan-urusan mereka. Di akhirat nanti akan menemani Rasulullah SAW, sebagaimana sahabat Ammar bin Yasir RA di awal perang Shiffin. Dia mengatakan:

اليوم ألقى الأحبة محمدا وحزبه

“Hari ini aku akan berjumpa dengan orang-orang terkasih, yaitu Nabi Muhammad SAW dan sahabat beliau.” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak)

Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW mengandung makna yang kompleks dan menyeluruh, yaitu zikir kepada Allah SWT dan bersamaan dengan itu ada unsur kepatuhan pada perintah Allah yang mana kita diperintahkan untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Selain itu shalawat juga mengandung pengagungan kepada pemimpin seluruh makhluk. Dan itulah substansi yang dimaksudkan. Karena shalawat juga mengandung kalimat paling mulia yaitu 

أشهد أن لا إله إلا الله، وأن محمدا رسول الله.

Syekh Ali Jum’ah berkata, “Shalawat kepada Nabi merupakan bentuk ikrar tauhid darimu, karena kamu memulainya dengan meminta rahmat dari Allah SWT, dan ini bermakna pengesaan (Tauhid), lalu kamu mengakhirinya dengan iman kepada pemimpin para makhluk yakni Nabi Muhammad SAW.”

Inilah sebagian keutamaan membaca shalawat, dan tidak ada yang menyadarinya kecuali orang-orang yang telah dibukakan hatinya oleh Allah SWT.

Shalawat adalah perlindungan, shalawat adalah pencukupan, shalawat adalah obat, shalawat adalah benteng pelindung.

Shalawatlah yang akan melahirkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW dalam hati orang-orang yang beriman sehingga mereka menerima ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan.

Shalawatlah yang menjaga dan memelihara rasa cinta tersebut. Shalawatlah yang meningkatkan derajat hamba di sisi Tuhannya.

Shalawatlah yang menjadikan seorang mukmin memperoleh kehormatan jawaban mulia dari Sayyidina Muhammad SAW, karena beliau senantiasa menjawab orang yang bershalawat kepadanya. Dan shalawatlah yang menjadi pintu yang sempurna untuk sowan kepada Sayyidina Muhammad SAW.

Syekh Ali Jum’ah menegaskan bahwa untuk bisa berjumpa dengan Nabi, dimulai dengan membaca shalawat dan memperbanyak bacaan shalawat.

اللهم صل على سيدنا محمد عبدك ونبيك ورسولك النبي الأمي وعلى آله وصحبه وبارك وسلم أجمعين


Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad

Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad Wa Ala Ali Sayyidina Muhammad 

Nabi Muhammad Saw merupakan Nabi penutup yang Allah utus untuk menuntun makhluk seluruh semesta alam. Beliau diberikan Allah berupa mukjizat kitab suci Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Ia adalah manusia yang paling sempurna. Setiap sikap, perilaku, dan tindakannya menjadi teladan bagi siapa pun, khususnya umat Islam.

Selain kitab suci Al-Qur’an, sabda Rasulullah juga menjadi dasar utama ajaran Islam yang kita kenal sebagai Sunnah atau Hadis.

Sholawat dalam Al-Qur’an

Maka, tidak heran apabila Al-Qur’an mengajarkan kepada kita untuk senantiasa bersholawat kepada Nabi. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Ahzab ayat 56, sebagai berikut:

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Menurut Syekh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fikih dan tafsir negeri Suriah, Allah memuliakan Nabi-Nya Muhammad ﷺ dan mengabarkan kedudukannya di sisi-Nya. Dan bahwasanya Allah memuji Nabi ﷺ dan menyanjungnya, dan para malaikat juga memujinya.

Kemudian Allah memerintahkan orang-orang yang beriman yang mereka membenarkan Allah dan Rasul-Nya ﷺ serta beramal dengan syariat-Nya dengan bershalwat dan salam kepada Nabi. Maka dengan ini terkumpullah bagi Nabi ﷺ pujian-pujian dan mendoakan Rasulullah ﷺ.

Allah kemudian memerintahkan orang-orang yang beriman yang mereka membenarkan Allah dan Rasul-Nya ﷺ serta beramal dengan syariat-Nya dengan bershalwat dan salam kepada Nabi, maka dengan ini semua terkumpul pujian dan doa dari penduduk langit dan bumi. (Tafsir Al-Wajiz, sumber: Tafsirweb)

Arti Sholawat
Menurut ahli tafsir Prof Quraish Shihab (2012: 369) dalam buku Haji dan Umrah Bersama M Quraish Shihab, mengucapkan shalawat, dalam arti permohonan kepada-Nya agar Nabi Muhammad Saw. mendapatkan limpahan dari Allah Swt. dengan rahmat dan kasih sayang-Nya.

Penilaian ini sebagai kunci pembuka pintu pengabulan doa, karena Nabi Muhammad adalah kekasih Allah dan melalui beliau, kita, umatnya, memperoleh petunjuk. Shalawat ini membuktikan rasa terima kasih kita kepada beliau yang dengan mengucapkannya kita berharap memperoleh pula percikan kasih-Nya. Tulisan Sholawat Nabi Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad Wa Ala Ali Sayyidina Muhammad

Ada banyak sekali redaksi sholawat Nabi yang bisa kita baca. Berikut ini tulisan Arab, latin dan artinya dari beberapa jenis sholawat kepada Nabi, keluarganya, dan sahabatnya:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Allahumma sholli ala Sayyidina Muhammad wa ala Ali Sayyidina Muhammad.

Artinya : “Ya Allah semoga rahmat senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad dan juga kepada Keluarga Nabi Muhammad.”

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ
Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad Wa Alihi Washahbihi Wasallim

Artinya : 
“Ya Allah berikan rahmat beserta keselamatan kepada junjungan Kita Nabi Muhammad dan Keluarga serta Para Sahabatnya.”

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ
Allahumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa’ala Alihi Washohbihi Ajma’in.

Artinya : 
”Ya Allah berikanlah rahmat kepada junjungan kita Nabi Muhammad dan atas keluarga beliau serta para sahabat beliau seluruhnya”.

Keutamaan Sholawat Nabi
Dalam penjelasan sebelummnya, Al-Qur’an sudah memerintahkan kepada kita untuk membaca sholawat kepada Nabi Muhammad, sebagaimana dalam kandungan Surat Al Ahzab ayat 56. Dalam hal ini ada fadhilah (keutamaan) bagi siapa saja yang bersholawat kepada Nabi. Berikut ini beberapa hadis populer tentang keutamaan bersholawat:

أَوْلَى النَّاسِ بِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً

“Orang yang paling berhak mendapatkan syafa’atku di hari kiamat adalah orang yang paling banyak bersholawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ

“Barangsiapa bersholawat kepadaku satu kali, niscaya Allah bersholawat kepadanya sepuluh sholawat, menghapus darinya sepuluh dosa dan mengangkat derajatnya sepuluh derajat.” (HR. An Nasa’i)

Anjuran Sholawat Nabi

Menurut Syekh Amin bin Abdullah asy-Syaqawi (2013: 16-17), ada tempat-tempat yang dianjurkan untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad, sebagai berikut:

  1. Setelah tasyahud pada tiap sholat. Dan membaca shalawat merupakan rukun sholat setelah tasyahud akhir menurut sebagian para ulama.
  2. Saat tasyahud awal dan pada penghujung doa qunut witir.
  3. Dalam sholat jenazah setelah takbir kedua.
  4. Tatkala hendak masuk dan akan keluar dari masjid.
  5. Membacakan sholawat ketika ada suatu kaum sedang berkumpul dan sebelum mereka berpisah.
Demikian penjelasan tentang sholawat Nabi. Semoga kita menjadi umat yang benar-benar cinta kepada Nabi dan semoga kelak kita mendapat syafaat Rasulullah. Amin. (MZN)

Keutamaan Membaca Shalawat untuk Nabi Muhammad Saw

Keutamaan Shalawat Untuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam, sholawat dan salam untuk Nabi dan Rasul yang paling mulia, Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Sesungguhnya Allah dengan segala kekuasaan-Nya telah mengutus nabi-Nya Muhammad dan telah memberinya kekhususan dan kemuliaan untuk menyampaikan risalah. Ia telah menjadikannya rahmat bagi seluruh alam dan pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa serta menjadikannya orang yang dapat memberi petunjuk ke jalan yang lurus. 

Maka seorang hamba harus taat kepadanya, menghormati dan melaksanakan hak-haknya. Dan di antara hak-haknya adalah Allah mengkhususkan baginya sholawat dan memerintahkan kita untuk itu di dalam kitab-Nya yang agung (Al-Qur’an) dan Sunnah nabi-Nya yang mulia (Hadits). Di mana orang yang yang bersholawat untuknya akan memperoleh pahala yang berlipat ganda. 

Maka sungguh berbahagialah orang yang mendapatkan itu. Dan karena masalah ini memiliki urgensi yang sangat besar dan pahala yang besar pula, maka kami merasa perlu untuk mengeluarkan tulisan-tulisan sederhana ini, yang di dalamnya terdapat motivasi untuk memperbanyak sholawat dan salam untuk nabi dan rasul yang paling mulia ini.

Ya Allah! Berilah Sholawat dan Salam atas nabi dan kekasih-Mu Muhammad selama siang dan malam yang silih berganti.

Sholawat Ibrahimiyah
Allohumma solli 'alaa muhammad, wa 'alaa aali muhammad, 
kamaa sollaita 'alaa aali ibroohim, wa alaa aali ibroohim, 
wa baarik 'alaa muhammad, wa 'alaa aali muhammad, 
kamaa baarokta 'alaa aali ibroohim, wa aali ibroohim, 
fil 'aalamiina innaka hamiidummajiid.

Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan untuk Nabi Muhammad. 
Dan juga limpahkanlah rahmat dan keselamatan kepada keluarga Muhammad, 
sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat dan keselamatan kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim.

Limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. 
Di seluruh alam semesta, sesungguhnya Engkau adalah Maha Terpuji lagi Maha Agung."

Pengertian Shalawat dan Salam atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

 إنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [Al-Ahzab/33: 56]

Ibnu Katsir-rahimahullah- berkata : “Maksud ayat ini adalah bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya tentang kedudukan hamba dan nabi-Nya (Muhammad) di sisi-Nya di langit di mana malaikat-malaikat bershalawat untuknya, lalu Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan makhluk-makhluk yang ada di bumi untuk bershalawat dan salam untuknya, agar pujian tersebut berkumpul untuknya dari seluruh alam baik yang ada di atas maupun yang ada di bawah.”

Ibnul Qoyyim -rahimahullah- berkata dalam buku “Jalaul Afham” : “Artinya bahwa jika Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk rasul-Nya, maka hendaklah kalian juga bershalawat dan salam untuknya karena kalian telah mendapatkan berkah risalah dan usahanya, seperti kemuliaan di dunia dan di akhirat.”

Banyak pendapat tentang pengertian Shalawat untuk nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan yang benar adalah seperti apa yang dikatakan oleh Abul Aliyah: “Sesungguhnya Shalawat dari Allah itu adalah berupa pujian bagi orang yang bershalawat untuk beliau di sisi malaikat-malaikat yang dekat” -Imam Bukhari meriwayatkannya dalam Shahihnya dengan komentar yang kuat- Dan ini adalah mengkhususkan dari rahmat-Nya yang bersifat umum. Pendapat ini diperkuat oleh Syaikh Muhammad bin ‘Utsaimin.

Salam : Artinya keselamatan dari segala kekurangan dan bahaya, karena dengan merangkaikan salam itu dengan shalawat maka kitapun mendapatkan apa yang kita inginkan dan terhapuslah apa yang kita takutkan. Jadi dengan salam maka apa yang kita takutkan menjadi hilang dan  bersih dari kekurangan dan dengan shalawat maka apa yang kita inginkan  menjadi terpenuhi dan lebih sempurna. Demikian yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin ‘Utsaimin.

Hukum Shalawat Untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Menurut madzhab Hanbaliy, shalawat dalam tasyahhud akhir itu adalah termasuk di antara rukun-rukun shalat.

Al-Qodhi Abu Bakar bin Bakir berkata: “Allah Subhanahu wa ta’aala telah mewajibkan makhluk-Nya untuk bershalawat dan salam untuk nabi-Nya, dan tidak menjadikan itu dalam waktu tertentu saja. Jadi yang wajib adalah hendaklah seseorang memperbanyak shalawat dan salam untuk beliau dan tidak melalaikannya.”

Waktu-waktu yang Disunnahkan dan Dianjurkan Membaca Shalawat dan Salam Untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

1. Sebelum berdoa:
Fadhalah bin ‘Abid berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang laki-laki berdoa dalam sholatnya, tetapi tidak bershalawat untuk nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda: “Orang ini tergesa-gesa” Lalu beliau memanggil orang tersebut dan bersabda kepadanya dan kepada yang lainnya:

((إذَا صَلَّى أحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ اللهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيهِ ، ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ ، ثُمَّ لِيَدْعُ بَعْدُ بِمَا شَاءَ))

“Bila salah seorang di antara kalian shalat (berdoa) maka hendaklah ia memulainya dengan pujian dan sanjungan kepada Allah lalu bershalawat untuk nabi, kemudian berdoa setelah itu dengan apa saja yang ia inginkan.” [H.R. Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad dan Hakim]

Dalam salah satu hadits disebutkan:

((الدُّعَاءُ مَحْجُوبٌ حَتَّى يُصَلِّيَ الدَّاعِي عَلَى النَّبِيّ صلى الله عليه وسلم ))

“Doa itu terhalangi, hingga orang yang berdoa itu bershalawat untuk nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [H.R. Thabarani]

Ibnu ‘Atha berkata: “Doa itu memiliki rukun-rukun, sayap-sayap, sebab-sebab dan waktu-waktu. Bila bertepatan dengan rukun-rukunnya maka doa itu menjadi kuat, bila sesuai dengan sayap-sayapnya maka ia akan terbang ke langit, bila sesuai dengan waktu-waktunya maka ia akan beruntung dan bila bertepatan dengan sebab-sebabnya maka ia akan berhasil.”

Adapun rukun-rukunnya adalah menghadirkan hati, perasaan tunduk, ketenangan, kekhusyu’an, dan ketergantungan hati kepada Allah, sayap-sayapnya adalah jujur, waktu-waktunya adalah di saat sahur dan sebab-sebabnya adalah shalawat untuk nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Ketika menyebut, mendengar dan menulis nama beliau:
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((رَغَمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ))

“Celakalah seseorang yang namaku disebutkan di sisinya lalu ia tidak bershalawat untukku.” [H.R. Tirmidzi dan Hakim]

3. Memperbanyak shalawat untuknya pada hari Jum’at:
Dari ‘Aus bin ‘Aus berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((إنَّ أفْضَلَ أيَّامِكُمْ يَوُمُ الجُمْعَةِ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ …))

“Sesungguhnya di antara hari-hari yang paling afdhal adalah hari Jum’at, maka perbanyaklah shalawat untukku pada hari itu, karena sholawat kalian akan sampai kepadaku……”  [H. R. Abu Daud, Ahmad dan Hakim]

4. Shalawat untuk nabi ketika menulis surat dan apa yang ditulis setelah Basmalah:
Al-Qodhi ‘Iyadh berkata: “Inilah saat-saat yang tepat untuk bershalawat yang telah banyak dilakukan oleh umat ini tanpa ada yang menentang dan mengingkarinya. Dan tidak pula pada periode-periode awal. Lalu terjadi penambahan pada masa pemerintahan Bani Hasyim -Daulah ‘Abbasiah- lalu diamalkan oleh umat manusia di seluruh dunia.”

Dan di antara mereka ada pula yang mengakhiri bukunya dengan shalawat.

5. Ketika masuk dan keluar mesjid:
Dari Fatimah -Radhiyallahu ‘Anha- berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bila anda masuk mesjid, maka ucapkanlah:

((بِسْمِ اللهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَاغْفِرْ لَنَا وَسَهِّلْ لَنَا أبْوَابَ رَحْمَتِكَ))

”Dengan nama Allah, salam untuk Rasulullah, ya Allah shalawatlah untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, ampunilah kami dan mudahkanlah bagi kami pintu-pintu rahmat-Mu.”

“Dan bila keluar dari mesjid maka ucapkanlah itu, tapi (pada penggalan akhir) diganti dengan:

((وَسَهِّلْ لَنَا أبْوَابَ فَضْلِكَ))

“Dan permudahlah bagi kami pintu-pintu karunia-Mu.” [H.R. Ibnu Majah dan Tirmidzi]   

Cara Shalawat dan Salam Untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [Al-Ahzab/33: 56]

Jadi yang utama adalah dengan menggandengkan shalawat dan salam bersama-sama, dengan harapan agar doanya dapat dikabulkan oleh Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Inilah bentuk shalawat dan salam untuk beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam Dari Abi Muhammad bin ‘Ajrah -Radhiyallahu ‘Anhu- berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar kepada kami, lalu saya berkata: “Wahai Rasulullah! Kami telah mengetahui bagaimana kami memberi salam kepadamu, maka bagaimana kami bershalawat untukmu?” Maka beliau bersabda: “Katakanlah:

((اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ))

“Ya Allah! Berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkati keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkaulah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” [Muttafqun ‘Alaihi]

Dan dari Abi Hamid As-Sa’id -Radhiyallahu ‘Anhu- berkata: “Mereka bertanya: “Ya Rasulullah bagaimana kami bershalawat untukmu? Beliau menjawab: “Katakanlah:

((اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ ، إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ))

Ya Allah! Berilah shalawat untuk Muhammad, istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau memberi shalawat untuk Ibrahim. Berkatilah Muhammad, istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau memberkati Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” [Muttafaqun ‘Alaihi]

Kedua hadits ini menunjukkan bentuk shalawat yang sempurna untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keutamaan Sholawat dan Salam Untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Dari Umar -Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذَا سَمِعْتُمُ المُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ مَرَّةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا لِي الوَسِيلَةَ فَإنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِي إلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ وَأرْجُو أنْ أكُونَ هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الوَسِيلَةَ حَلَّتْ عَلَيْهِ الشَّفَاعَةُ

“Jika kalian mendengar orang yang adzan maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan dan bershalawatlah untukku karena barangsiapa yang bershalawat untukku sekali maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali, kemudian  mintalah wasilah (kedudukan mulia di surga) untukku, karena ia adalah suatu kedudukan di surga yang tidak pantas diberikan kecuali kepada seorang hamba dari hamba-hamba Allah dan semoga akulah hamba itu, maka barangsiapa yang memohon untukku wasilah maka  ia berhak mendapatkan syafa’at.”  [H.R. Muslim]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ حِيْنَ يُصْبِحُ عَشْرًا وَحِينَ يُمْسِي عَشْرًا أدْرَكَتْهُ شَفَاعَتِي))

“Barangsiapa yang bershalawat untukku di waktu pagi sepuluh kali dan di waktu sore sepuluh kali, maka ia berhak mendapatkan syafa’atku.” [H.R. Thabarani]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا))

“Barangsiapa yang bershalawat atasku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali.” [H.R. Muslim, Ahmad dan perawi hadits yang tiga]

Dan dari Abdurrahman bin ‘Auf -Radhiyallahu ‘Anhu- berkata: “Saya telah mendatangi nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ia sedang sujud dan memperpanjang sujudnya. Beliau bersabda:“Saya telah didatangi Jibril, ia berkata: “Barangsiapa yang bershalawat untukmu, maka saya akan bershalawat untuknya dan barangsiapa yang memberi salam untukmu maka saya akan memberi salam untuknya, maka sayapun bersujud karena bersyukur kepada Allah.”  [H.R. Hakim, Ahmad dan Jahadhmiy]

Ya’qub bin Zaid bin Tholhah At-Taimiy berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

“Telah datang kepadaku (malaikat) dari Tuhanku dan berkata: “Tidaklah seorang hamba yang bershalawat untukmu sekali kecuali Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali.” Maka seseorang menuju kepadanya dan bertanya: “Ya Rasulullah! Apakah saya jadikan seperdua doaku untukmu?” Beliau menjawab: “Jika anda mau”. Lalu bertanya: “Apakah saya jadikan sepertiga doaku?” Beliau bersabda: “Jika anda mau” Ia bertanya: “Kalau saya jadikan seluruh doaku?” Beliau bersabda: “Jika demikian maka cukuplah Allah sebagai motivasi dunia dan akhiratmu.”  [H.R. Al-Jahdhami, Al-Albani berkata: “Hadits Mursal dengan Isnad yang Shahih]

Dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((إنَّ للهِ مَلاَئِكَةً سَيَّاحِينَ يُبَلِّغُونَنِي مِنْ أُمَّتِي السَّلاَمَ))

“Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling menyampaikan salam kepadaku dari umatku.” [H.R. Nasa’i dan Hakim]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang bershalawat untukku sekali maka Allah akan bersholawat untuknya sepuluh kali, diampuni sepuluh dosa-dosanya dan diangkat baginya sepuluh derajat.” [H.R. Ahmad dan Bukhari, Nasa’i dan Hakim dan ditashih oleh Al-Albani]

Hadits marfu’ dari Ibnu Mas’ud: “Manusia yang paling utama di sisiku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak bersholawat untukku.”  [H.R. Tirmidzi dan berkata: “Hasan ghorib dan H.R. Ibnu Hibban]

Dari Jabir bin Abdullah berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang ketika mendengarkan adzan membaca:

((اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ ، آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ))

“Ya Allah! Tuhan pemilik adzan yang sempurna ini dan sholat yang ditegakkan, berilah Muhammad wasilah dan fadhilah dan bangkitkanlah ia pada tempat terpuji yang telah Engkau janjikan untuknya.” Maka ia berhak mendapatkan syafa’at pada hari kiamat. [H.R. Bukhari dalam shohihnya]

Celaan Bagi Yang Tidak Bershalawat Untuk Nabi.
Dari Abu Huraerah -Radhiyallahu ‘Anhu-­ berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Celakalah seseorang yang jika namaku disebut di sisinya ia tidak bershalawat untukku, celakalah seseorang, ia memasuki bulan Ramadhan kemudian keluar sebelum ia diampuni, celakalah seseorang, kedua orang tuanya telah tua tetapi keduanya tidak memasukkannya ke dalam surga.” Abdurrahman salah seorang perawi hadits dan Abdurrahman bin Ishak berkata: “Saya kira ia berkata: “Atau salah seorang di antara keduanya” [H.R. Tirmidzi dan Bazzar]

Dari Ali bin Abi Thalib, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((البَخِيلُ كُلَّ البُخْلِ الَّذِي ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ))

“Orang yang paling bakhil adalah seseorang yang jika namaku disebut ia tidak bershalawat untukku.” [H.R. Nasa’i, Tirmidzi dan Thabaraniy]

Dari Ibnu Abbas, Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((مَنْ نَسِيَ الصَّلاَةَ عَلَيَّ خُطِئَ طَرِيقَ الجَنَّةَ))

“Barangsiapa yang lupa mengucapkan shalawat untukku maka ia telah menyalahi jalan surga.” [Telah ditashih oleh Al-Albani]

Dari Abu Hurairah, Abul Qosim bersabda: “Suatu kaum yang duduk pada suatu majelis lalu mereka bubar sebelum dzikir kepada Allah dan bershalawat untuk nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Allah akan menimpakan kebatilan atas mereka, bila Ia menghendaki maka mereka akan disiksa dan bila Ia menghendaki maka mereka akan diampuni.”  [H.R. Tirmidzi dan mentahsinnya serta Abu Daud]

Diriwayatkan oleh Abu Isa Tirmidzi dari sebagian ulama berkata: “Jika seseorang bershalawat untuk nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sekali dalam suatu majelis, maka itu sudah memadai dalam majelis  tersebut.”

Faedah dan Buah Sholawat Untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Ibnul Qoyyim menyebutkan 39 manfaat sholawat untuk nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya adalah sebagai berikut:
  1. Melaksanakan perintah Allah subhaanahu wa ta’aala
  2. Mendapatkan sepuluh sholawat dari Allah bagi yang membaca shalawat satu kali.
  3. Ditulis baginya sepuluh kebaikan dan dihapus darinya sepuluh kejahatan.
  4. Diangkat baginya sepuluh derajat.
  5. Kemungkinan doanya terkabul bila ia mendahuluinya dengan shalawat, dan doanya akan naik menuju kepada Tuhan semesta alam.
  6. Penyebab mendapatkan syafa’at Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila diiringi oleh permintaan wasilah untuknya atau tanpa diiringi olehnya.
  7. Penyebab mendapatkan pengampunan dosa.
  8. Dicukupi oleh Allah apa yang diinginkannya.
  9. Mendekatkan hamba dengan nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari kiamat.
  10. Menyebabkan Allah dan malaikat-Nya bershalawat untuk orang yang bersholawat.
  11. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab sholawat dan salam orang yang bersholawat untuknya.
  12. Mengharumkan majelis dan agar ia tidak kembali kepada keluarganya dalam keadaan menyesal pada hari kiamat.
  13. Menghilangkan kefakiran.
  14. Menghapus predikat “kikir” dari seorang hamba jika ia bershalawat untuk nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika namanya disebut.
  15. Orang yang bershalawat akan mendapatkan pujian yang baik dari Allah di antara penghuni langit dan bumi, karena orang yang bershalawat, memohon kepada Allah agar memuji, menghormati dan memuliakan rasul-Nya, maka balasan untuknya sama dengan yang ia mohonkan, maka hasilnya sama dengan apa yang diperoleh oleh rasul-Nya.
  16. Akan mendapatkan berkah pada dirinya, pekerjaannya, umurnya dan kemaslahatannya, karena orang yang bershalawat itu memohon kepada Tuhannya agar memberkati nabi-Nya dan keluarganya, dan doa ini terkabul dan balasannya sama dengan permohonannya.
  17. Nama orang yang bershalawat itu akan disebutkan dan diingat di sisi Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti penjelasan terdahulu, sabda Rasul: “Sesungguhnya shalawat kalian akan diperdengarkan kepadaku.” Sabda beliau yang lain: “Sesungguhnya Allah mewakilkan malaikat di kuburku yang menyampaikan kepadaku salam dari umatku.” Dan cukuplah seorang hamba mendapatkan kehormatan bila namanya disebut dengan kebaikan di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  18. Meneguhkan kedua kaki di atas Shirath dan melewatinya berdasarkan hadits Abdurrahman bin Samirah yang diriwayatkan oleh Said bin Musayyib tentang mimpi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Saya melihat seorang di antara umatku merangkak di atas Shirath dan kadang-kadang berpegangan lalu shalawatnya untukku datang dan membantunya berdiri dengan kedua kakinya lalu menyelamatkannya.” [H.R. Abu Musa Al-Madiniy]
  19. Akan senantiasa mendapatkan cinta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan bertambah dan berlipat ganda. Dan itu termasuk ikatan Iman yang tidak sempurna kecuali dengannya, karena seorang hamba bila senantiasa menyebut nama kekasihnya, menghadirkan dalam hati segala kebaikan-kebaikannya yang melahirkan cinta, maka cintanya itu akan semakin berlipat dan rasa rindu kepadanya akan semakin bertambah, bahkan akan menguasai seluruh hatinya. Tetapi bila ia menolak mengingat dan menghadirkannya dalam hati, maka cintanya akan berkurang dari hatinya. Tidak ada yang lebih disenangi oleh seorang pecinta kecuali melihat orang yang dicintainya dan tiada yang lebih dicintai hatinya kecuali dengan menyebut kebaikan-kebaikannya. Bertambah dan berkurangnya cinta itu tergantung kadar cintanya di dalam hati, dan keadaan lahir menunjukkan hal itu.
  20. Akan mendapatkan petunjuk dan hati yang hidup. Semakin banyak ia bershalawat dan menyebut nabi, maka cintanyapun semakin bergemuruh di dalam hatinya sehingga tidak ada lagi di dalam hatinya penolakan terhadap perintah-perintahnya, tidak ada lagi keraguan terhadap apa-apa yang dibawanya, bahkan hal tersebut telah tertulis di dalam hatinya, menerima petunjuk, kemenangan dan berbagai jenis ilmu darinya. Ulama-ulama yang mengetahui dan mengikuti sunnah dan jalan hidup beliau, setiap pengetahuan mereka bertambah tentang apa yang beliau bawa, maka bertambah pula cinta dan pengetahuan mereka tentang hakekat sholawat yang diinginkan untuknya dari Allah.
Disalin dari
 فضل الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم  
Penulis Penerbit Darul Qosim 
Penerjemah : Sholahuddin Abdul Rahman, Lc, 
Murajaah : Abu Ziyad. Maktab 
Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2007 – 1428

Referensi : 
https://almanhaj.or.id/35272-keutamaan-shalawat-untuk-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html

11 Keutamaan Membaca Shalawat untuk Nabi Muhammad Saw
Di sisa waktu bulan Sya’ban sebelum memasuki bulan Ramadhan ini, kita perlu untuk memperbanyak membaca shalawat. Bulan Sya’ban merupakan bulan shalawat untuk Nabi Muhammad saw. Setidaknya, ada dua alasan mengenai hal tersebut, yakni 
  1. Nabi Muhammad saw menyebut bulan Sya’ban sebagai bulannya dan
  2. Bulan Sya’ban merupakan waktu turunnya Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 56, satu ayat yang memerintahkan kaum beriman untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad saw. 
Oleh karena itu, di sisa waktu bulan Sya’ban sebelum memasuki bulan Ramadhan ini, kita perlu untuk memperbanyak membaca shalawat. Hal ini sebagai bagian dari cara kita untuk belajar mencintai Nabi Muhammad saw. 

Di samping itu, shalawat juga memberikan banyak keutamaan atau keuntungan bagi pembacannya. Setidaknya, Sayid Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Maliki al-Hasani dalam kitabnya yang berjudul Ma Dza fi Sya’ban menyebut 12 fadilahnya. 

Pertama, orang yang bershalawat untuk Nabi Muhammad saw akan dibalas oleh Allah swt dengan 10 kali shalawat. Hal ini didasarkan pada sebuah hadits, “Siapa yang bershalawat untukku sekali, maka Allah swt bershalawat untuknya 10 kali.” 

Kedua, orang yang bershalawat kepada Rasulullah saw, Rasulullah saw sendiri akan bershalawat untuknya. Demikian ini berdasar pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dari Sahabat Anas bin Malik, “Siapa yang bershalawat untukku maka shalawat itu akan sampai padaku dan aku akan bershalawat untuknya, dan baginya akan dicatat 10 kebaikan.” 

Ketiga, orang yang membacakan shalawat untuk Nabi, malaikat juga akan bershalawat untuknya. Sebab, ada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abdullah bin Umar ra, Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang bershalawat untuk Nabi Muhammad saw sekali, maka Allah swt dan malaikatnya akan bershalawat untuknya 70 kali.” Dalam hadits lain disebutkan, bahwa malaikat akan bershalawat kepada orang yang bershalawat untuk Nabi Muhammad saw selama ia bershalawat.
 
Keempat, orang yang bershalawat untuk Nabi Muhammad saw akan diangkat derajatnya, ditambahkan kebaikannya, dan dihapuskan keburukannya. Hal ini atas dasar hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani, Imam An-Nasai, dan Imam Al-Bazzar dari Abu Burdah bin Nayar berikut

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم من صلى علي من أمتي صلاة مخلصا من قلبه، صلى الله عليه بها عشر صلوات، و رفعه بها عشر درجات، و كتب له بها عشر حسنات، و محا بها عشر سيئات 
Artinya, Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang bershalawat kepadaku dari umatku shalawat secara ikhlas dari hatinya, Allah swt akan bershalawat untuknya 10 kali shalawat, menaikkan derajatnya 10 kali, mencatat untuknya 10 kali kebaikan, dan menghapuskan untuknya 10 keburukan.” 

Kelima, orang bershalawat akan mendapatkan pahala setara dengan membebaskan 10 budak tulus karena Allah swt. Hal ini atas dasar hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim dari Al-Barra bin Azib ra. 

Keenam, bershalawat menjadi sebab diampuninya dosa-dosa. Sebab, ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim dan Al-Thabrani dari Abu Kahil berikut

. ال لي رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يا أبا كاهلٍ من صلَّى عليَّ كلَّ يومٍ ثلاثَ مرَّاتٍ وكلَّ ليلةٍ ثلاثَ مرَّاتٍ حبًّا وشوقًا إليَّ كان حقًّا على اللهِ أن يغفرَ له ذنوبَه تلك اللَّيلةَ وذلك اليومَ
Artinya, Rasulullah saw bersabda kepadaku, “Wahai Abu Kahil, siapa yang bershalawat untukku saban hari tiga kali dan saban malam tiga kali karena cinta dan rindu kepadaku, sungguh Allah akan mengampuni dosa-dosanya pada malam dan hari itu.” 

Ketujuh, shalawat akan memohonkan ampunan kepada pembacanya dan menghiburnya di kubur. Hal ini berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sayidah Aisyah ra. 

Kedelapan, di antara keutamaan shalawat untuk Nabi Muhammad saw adalah Rasulullah saw akan memberikan syafaat untuknya. 

Kesembilan, shalawat juga akan meniadakan kefakiran bagi pembacanya dan membanjirinya dengan kebaikan dan berkah. 

Kesepuluh, Rasulullah saw akan menjadikan orang yang banyak bershalawat untuknya sebagai manusia paling utama di sisinya. 

Kesebelas, keberkahan dan kebaikan bershalawat terus berlimpah hingga anak dan cucunya.